Dionysius Desembriarto

Yogyakarta / Warga Epistoholik Indonesia

Monday, May 31, 2004

Selamat datang di situs blog saya
sebagai warga jaringan Epistoholik Indonesia,



Nama saya, Dionysius Desembriarto, berdomisili di Deresan, Yogyakarta, kelahiran tahun 1972. Pekerjaan saya adalah sebagai dosen dan meminati kajian di bidang sosial, politik dan keamanan.

Saya mulai menerjuni aktivitas sebagai seorang epistoholik sejak tahun 2003, antyara lain karena terdorong oleh ajakan Bambang Haryanto yang mempromosikan komunitas para penulis surat pembaca se-Indonesia yang tergabung dalam jaringan Epistoholik Indonesia (EI) di kolom “Bebas Bicara’, Harian Bernas Yogyakarta (18/10/2003).

Saya, terus terang, belum mengenal dunia yang berkaitan dengan tulis-menulis surat pembaca. Saya pernah mencoba mengirim satu tulisan ke majalah Gatra (No. 0 dalam album surat pembaca saya) tetapi saya tidak tahu apakah tulisan saya itu dimuat atau tidak. Saya membuatnya sudah 3 tahun yang lalu. Saya juga sebenarnya telah membuat beberapa tulisan, tetapi belum sempat saya kirimkan. Sekarang semuanya sudah out of date dan tidak aktual.

Mungkin ini saat yang tepat bagi saya untuk mencoba menjadi penulis kolom surat pembaca, soalnya sebetulnya saya juga sudah tahu bahwa bisa menulis itu sangat menyenangkan. Saya pasti harus banyak belajar dari Bapak yang sudah punya banyak pengalaman dalam menulis. (Email saya ke Bambang Haryanto, 19/10/2003).

Kini, dengan menulis surat-surat pembaca saya dapat mengungkapkan pemikiran dan pendapat di media massa untuk menanggapi peristiwa atau pun isu yang sedang aktual di tengah masyarakat.

Untuk Epistoholik Indonesia (EI), saya usulkan agar semakin digencarkan upaya sosialisasi mengenai makna istilah epistoholik dan juga mengenai jaringan komunitas Epistoholik Indonesia itu sendiri. Karena menurut pendapat saya, selama ini masyarakat luas masih belum mengetahui secara komprehensif tentang ke dua hal tersebut

Untuk Anda pembaca yang budiman, saya haturkan selamat menjelajahi album surat-surat pembaca yang saya tulis dalam situs ini. Silakan memberi komentar, masukan dan saran, saya akan selalu menyambutnya dengan terbuka dan penuh kegembiraan. Terima kasih.

Hormat dan salam saya,

Yogyakarta, 4 April 2004



Dionysius Desembriarto
------------------------

(12) FENOMENA AFI
Dimuat di Kolom Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 26 April 2004


Dalam beberapa bulan belakang ini, bangsa ini tampaknya telah dimanjakan oleh tontonan televisi berjudul Akademi Fantasi Indonesia (AFI) yang disiarkan oleh Indosiar. Acara ini adalah suatu program kompetisi bagi anak-anak muda untuk menjadi pesohor melalui kontes tarik suara. Kita bisa melihat bahwa orang-orang tua dan muda begitu antusias mengikuti hiruk pikuk acara tersebut. Mereka mengikuti dengan seksama proses eliminasi sampai penetapan pemenang di TV serta beberapa acara lain yang berkaitan dengan kehidupan para pesertanya ketika mereka mengikuti kompetisi.

Para penggemar acara tersebut hapal nama-nama dan daerah asal pesertanya serta bahkan sedikit info-info lain tentang mereka. Anak-anak muda sangat menggandrungi para peserta AFI, terutama mereka yang dapat dikategotikan sebagai orang-orang bertampang cakep (tampan atau cantik). Kalangan anak-anak juga mau merogoh kocek mereka untuk membeli kaset atau CD rekaman lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pada peserta AFI.

Fenomena terbiusnya masyarakat oleh AFI sangat menarik untuk dicermati. Gandrungnya masyarakat pada acara tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kita telah menentukan pilihannya untuk lebih tertarik pada kehidupan glamor para pesohor yang telah menjadi panutan mereka selama ini. Kontes AFI sebenarnya adalah ajang untuk menapaki tangga popularitas selebritis. Para pesertanya dan fans mereka tentu saja telah terbutakan kehidupan yang ditawarkan oleh silaunya dunia hiburan dan entertainment. Para peserta menjadi pihak yang berjuang secara nyata untuk menapaki tujuan tersebut, sementara fans mereka dan para penonton acara tersebut merupakan pihak-pihak yang mendukung dari jauh terwujudnya tercapainya impian para peserta yang bukan tidak mungkin mereka juga sebenarnya ingin mencapai tujuan yang sama.

Fenomena AFI dapat kita gunakan sebagai bahan perenungan untuk melihat masyarakat kita selama ini. Masyarakat kita telah banyak dipengaruhi oleh dunia hiburan. Kita telah terbawa arus untuk mengidolakan kehidupan-kehidupan ala pesohor. Fenomena ini diperparah oleh semakin banyak tontonan infotainment yang banyak mengulas segala sisi kehidupan para selebritis, baik kemewahan, isu-isu dan tragedi yang dialami oleh para artis-artis.

Tontonan yang dapat dilihat tiap hari ini telah meracuni pikiran masyarakat dan membuat mereka meniru dan ingin menjadi selebritits pujaan mereka. Semua ini hanya akan memberikan mimpi-mimpi kosong kepada masyarakat dan membutakan mereka pada kehidupan riil sehari-hari.

Jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut, masyarakat Indonesia bukan tidak mungkin masyarakat kita menjadi orang-orang yang menjauhkan diri dari kehidupan nyata yang mereka hadapi di sekitar mereka. Mereka bisa menjadi tidak peduli dengan masalah-masalah sosial di sekitarnya karena mereka sudah terkungkung oleh gambaran kehidupan para dunia selebritis. Kita mungkin akan banyak melihat generasi berikutnya yang mempunyai cita-cita sebagai artis, selebritis, penyanyi dan sejenisnya. Kita mungkin tidak akan menemui lagi anak-anak yang bercita-cita untuk menjadi guru, profesor atau tentara….



---------------------

(11) SEMUANYA MASIH HARUS DIATURD
imuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 6/4/2004


Kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 baru saja berakhir pada 1 April lalu. Kekhawatiran banyak pihak tentang kekacauan selama kampanye terbukti tidak menjadi kenyataan. Kampanye berlangsung dengan relatif damai dan teratur, walaupun masih ada gesekan-gesekan kecil dan pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan tentang kampanye di sana-sini.

Kampanye yang relatif lebih aman dan tertib terjadi karena, pertama, kurang gregetnya pelaksanaan kampanye. Kita bisa melihat bahwa gegap-gempita kampanye kali ini berbeda dengan kampanye pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Menurut banyak pengamat, animo masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam kampanye tidak tinggi karena masyarakat sudah menjaga jarak dengan parpol-parpol. Mereka tidak peduli lagi dengan penyampaian janji-janji parpol karena mereka tidak yakin bahwa janji itu akan terwujud.

Kedua, peraturan-peraturan tentang kampanye yang tegas telah disosialisasikan oleh pihak-pihak yang berwenang dan penerapan peraturan-peraturan itu di lapangan selama kampanye.

Pihak legislatif dan lembaga yang berwenang dan bertanggung jawab melaksanakan proses Pemilu 2004 telah menetapkan Undang-undang Pemilu dan beberapa peraturan-peraturan kampanye yang harus ditaati oleh parpol peserta pemilu dan para pengikut kampanye dengan tujuan untuk menciptakan kampanye yang lebih "beradab" serta berlangsung dengan aman, tertib dan teratur .

Disamping itu, pihak yang berwenang dan pihak keamanan rajin melakukan pengawasan pelaksanaan dan mereka bertindak tegas menegakkan peraturan-peraturan kampanye di lapangan pada kasus-kasus tertentu.

Hal tersebut telah memberikan gambaran pada kita bahwa masyarakat Indonesia masih membutuhkan peraturan-peraturan untuk menciptakan tatanan dan kegiatan masyarakat yang tertib dan memberikan kenyamanan bagi orang banyak. Ketertiban dan keamanan kampanye yang tercipta karena tekanan peraturan telah memberikan contoh bahwa masyarakat kita harus diatur dalam beberapa aspek kehidupan agar interaksi antar sesama warga masyarakat dapat tercipta menjadi suasana yang mententramkan.

Kita harus menyadari bahwa masyarakat kita masih belum bisa menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, yaitu masyarakat yang menyeimbangkan antara hak dan kewajiban. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita masih mengutamakan pemenuhan hak dibandingkan melakukan kewajiban atau mendahulukan kepentingan masyarakat.

Agar kita dapat "terpaksa" memperhatikan dan mempertimbangkan kewajiban, maka kita masih membutuhkan peraturan-peraturan yang mengatur segala tindakan kita. Peraturan itu juga masih harus memerlukan penegakkan yang tegas oleh pihak yang berwenang karena banyak bukti telah menunjukkan bahwa masih banyak anggota masyarakat yang "membandel" dan tidak menaati peraturan yang ada.

Jika masyarakat tidak mau diatur-atur dengan berbagai tetek bengek peraturan, maka masyarakat harus mulai mendisiplinkan diri serta memahami arti hidup bermasyarakat dan bernegara agar tercipta keadaan masyarakat yang tenteram dan damai. Tapi sampai kapan kita masih harus belajar untuk mewujudkannya?

Ataukah kita malah semakin berperilaku semakin menjauh dari sikap untuk menyeimbangkan antara hak dan kewajiban?


---------------------------

(10) PERJUANGAN HIDUP
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 9 Februari 2004


Harian Bernas edisi 2 Februari 2004 memperlihatkan gambar antrean pria dan wanita yang ingin mengunjungi pameran raya bursa kerja dan rekrutmen SDM, Indo Karir Expo 2004 di Jakarta. Mereka rela datang jauh lebih awal sebelum loket penjualan tanda masuk dibuka. Para pengunjung rela membayar Rp. 20.000 dan berdiri lama serta berdesak-desakan untuk merebut kesempatan masuk ke gedung. Gambaran itu memperlihatkan keinginan banyak orang di Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan.

Pada edisi yang sama, kita bisa melihat gambar perjuangan orang yang rela berdesak-desakan dan saling dorong untuk mendapatkan daging hewan kurban. Mereka biasanya adalah orang-orang yang selalu mendatangi tempat-tempat yang membagikan hewan kurban bagi kaum dhuafa saat hari Idul Adha.

Dua kejadian itu memperlihatkan bahwa masih banyak anggota masyarakat yang harus berjuang keras untuk sekedar bertahan hidup. Para pencari kerja dan bahan pangan (daging) cuma-cuma adalah kaum yang masih bernasib kurang beruntung, karena mereka mau tidak mau harus melakukan upaya ekstra berat agar mendapatkan sesuatu yang mereka butuhkan. Para pencari kerja berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan sangat diperlukan orang untuk mendapatkan penghasilan atau pendapatan yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup.

Bagi para pencari daging kurban, daging yang mereka peroleh dapat menjadi tambahan lauk dalam menu makanan mereka yang mungkin tidak pernah menyertakan makanan berdaging setiap harinya. Mereka tidak dapat menghadirkan daging dalam menu makanan mereka, karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membeli daging.

Merekalah sebenarnya adalah contoh kelompok masyarakat yang harus diperjuangkan untuk menikmati kehidupan dengan lebih baik. Mereka membutuhkan pertolongan dari orang lain, terutama para penguasa negeri yang berkewajiban memperhatikan nasib mereka. Pemimpin negara ini harus memahami permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang kurang beruntung seperti mereka.

Para penguasa harus membuka mata hati mereka dan peka terhadap nasib warga masyarakat yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Mereka harus berjanji dan konsisten dengan janji mereka untuk melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki nasib anggota masyarakat yang kurang beruntung. Pemimpin negara harus selalu berusaha mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Jika para pemimpin negeri ini dapat melakukannya dengan baik, kita tentu saja tidak akan lagi melihat jerit tangis dan erangan orang-orang yang harus antre untuk mendapatkan sesuatu.

---------------------

(9) TNI-KU SAYANGD
imuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 14 Januari 2004


Minggu lalu, media massa banyak menyiarkan berita tentang permintaan beberapa kelompok masyarakat yang menuntut dilakukan penyelidikan atas gugurnya Ersa Siregar, seorang reporter RCTI yang meliput langsung situasi Aceh yang sedang berada dalam situasi darurat militer. Reporter itu meninggal pada suatu kontak senjata antara pasukan marinir TNI dengan Gerakan Separatis Aceh (GSA).

Para kelompok tersebut menginginkan pengusutan tuntas tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas kematian Ersa. Bahkan beberapa pihak seolah-olah sudah menyerukan nada miring tentang tanggung jawab TNI, jika tidak dapat dikatakan bahwa mereka menuduh TNI sebagai biang utama, terhadap peristiwa tersebut. TNI dalam arti personal dan institusi menjadi sasaran tuntutan mereka.

Pihak TNI sebenarnya telah mengungkapkan dengan jantan bahwa peluru yang mengenai tubuh Ersa dan menyebabkan kematiannya adalah peluru TNI, yang tentu saja ditembakkan dari senapan prajurit TNI. Tetapi apakah bukti tersebut dapat digunakan untuk menyerang TNI dan menuduhnya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas gugurnya Ersa? Beberapa pertimbangan dapat kita gunakan untuk berpikir secara obyektif tentang siapa yang dapat dianggap paling bertanggung jawab.

Kematian di medan perang adalah resiko semua pihak termasuk warga sipil dan jurnalis. Pihak sipil dapat terbunuh dengan sengaja maupun tidak sengaja. Pembunuhan warga sipil secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang, sedangkan yang tidak sengaja dapat terjadi karena kecelakaan perang.

Dalam kasus Ersa, gugurnya ia dapat digolongkan sebagai terbunuhnya warga sipil secara tidak sengaja. Pihak TNI telah mengemukakan bahwa Ersa tertembak di tengah-tengah pertempuran antara TNI dengan sekelompok GSA. Situasi pertempuran adalah keadaan yang sangat sulit dihadapi oleh semua pihak yang terlibat, terutama tentara yang berperang. Medan perang yang sulit menyebabkan peperangan menjadi tidak terkendali. Prajurit mengalami kesulitan menentukan target sasaran dan posisi musuh.

Disamping itu, mereka juga harus sangat waspada agar tidak menjadi sasaran tembakan lawan yang mungkin tidak diketahui letaknya. Pilihan membunuh atau terbunuh akan membuat tekanan mental dan psikologis bagi prajurit yang kadang-kadang dapat membuat mereka tidak dapat menilai situasi dengan baik. Hal itu dapat sekali memungkinkan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan, seperti terbunuhnya warga sipil karena peluru nyasar atau salah sasaran.

Pengalaman pasukan koalisi Amerika Serikat dan Inggris di medan perang Irak dapat menjadi contoh tentang situasi yang tidak terkontrol sehingga menimbulkan korban yang tidak diharapkan. Pada perang untuk menjatuhkan Saddam Husein beberapa waktu lalu, beberapa orang tentara Inggris dan AS terbunuh oleh tembakan atau serangan pasukan AS sendiri. Pasukan AS bertempur sebenarnya sudah dibekali dengan ketrampilan bertempur, peralatan komunikasi canggih, persiapan dan koordinasi perang yang baik.

Mereka juga telah terbiasa dengan alat canggih IFF (Identifying Friends or Foes) atau alat untuk mengidentifikasikan teman atau lawan Tetapi semua itu tidak dapat menjamin terhindarinya korban di pihak pasukan koalisi yang disebabkan oleh friendly fire atau tembakan teman sendiri. Kecelakaan itu terjadi karena situasi peperangan yang tidak terkendali dan rumitnya medan perang.

Terbunuhnya Ersa dapat terjadi karena penawanan Ersa oleh pihak GSA. Ersa tidak mungkin tertembak jika ia tidak berada di antara para pemberontak. Peristiwa penawanan Ersa telah membuktikan bahwa GSA telah melanggar konvensi internasional tentang tawanan perang. Pihak yang berperang tidak boleh menawan jurnalis dengan alasan apapun. GSA tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menawan Ersa dan rekan-rekannya, karena mereka tidak pernah memberikan laporan yang melawan atau memojokkan GSA. Ia hanya melaporkan secara obyektif derita rakyat Aceh yang disebabkan oleh perang.

Kita bisa menyimpulkan bahwa tindakan GSA untuk menawan para jurnalis itu adalah tindakan untuk melindungi mereka sendiri dengan menjadikan tawanan sebagai tameng.

Pertimbangan-pertimbangan itu seharusnya dipikirkan oleh warga masyarakat yang gencar menuntut penyelidikan terbunuhnya Ersa, terutama mereka yang terlalu berpandangan sinis terhadap TNI. Pihak-pihak yang selama ini selalu bersifat antipati terhadap TNI sebaiknya berpikir dan bertindak secara obyektif, tidak hanya memuaskan nafsu antipati mereka atau mengusung tema anti-TNI dengan menggunakan peristiwa terbunuh Ersa untuk mencari uang belaka.


---------------------

(8) BANJIR DAN BANJIR LAGI
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 9 Januari 2004


Hujan merupakan dambaan bagi manusia. Air hujan selalu ditunggu oleh manusia pada musimnya. Air hujan itu ditunggu-tunggu karena air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Air digunakan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, bercocok tanam dan banyak lagi. Sehingga air hujan merupakan berkah bagi manusia.

Tetapi jika air hujan yang sudah turun ke bumii telah berubah menjadi banjir, air yang seharusnya memberikan penghidupan bagi manusia malah berubah menjadi bencana yang merugikan manusia. Banjir telah meredam rumah-rumah, merusak kebun dan sawah, merengut korban jiwa dan harta serta menyebabkan meruaknya beberapa jenis penyakit.

Musim hujan telah berlangsung di negara kita selama dua bulan ini. Turunnya air dari langit itu telah diiringi oleh berita banjir di beberapa pelosok daerah di tanah air kita, baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan. Banjir telah terjadi dalam skala kecil sampai skala besar, bahkan banjir sering disertai dengan bencana tanah longsor. Kita mungkin bisa mengingat kembali banjir bandang di Bohorok yang menyebabkan puluhan jiwa melayang.

Banjir-banjir lebih kecil telah terjadi di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Bencana-bencana itu tidak sebesar banjir di Bohorok, tetapi telah juga merengut jiwa manusia, kerugian materiil dan lumpuhnya aktivitas penduduk setempat. Kehidupan masyarakat terganggu karena mereka harus mengungsi dan fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan untuk bekerja telah rusak.

Biaya tambahan harus dikeluarkan untuk memperbaiki infrastruktur, memperbaiki rumah dan mengobati segala penyakit muncul akibat banjir. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa banjir telah menimbulkan banyak penderitaan dan kerugian yang dialami oleh masyarakat korban dan sekitar wilayah bencana.

Bencana banjir muncul karena berbagai sebab, pertama, banjir terjadi karena cuaca alam ekstrim. Hujan yang sangat deras dan lama sering menimbulkan turunnya air ke bumi dalam jumlah yang sangat besar, sehingga menyebabkan luapan air yang kemudian berubah menjadi banjir.

Kedua, kemampuan tanah untuk menampung air hujan sudah mulai turun. Tanah dan keadaan lingkungan yang sudah rusak dapat menyebabkan kemampuan bumi untuk menampung air hujan menjadi merosot. Permukaan tanah yang seharusnya dapat menyerap air sudah tertutup dengan berbagai jenis bangunan yang dapat menghambat peresapan air. Hal itu mungkin merupakan salah satu konsekuensi dari jumlah penduduk yang semakin banyak.

Besarnya jumlah penduduk membutuhkan lebih banyak bangunan, seperti rumah dan jalan. Rusaknya hutan juga sering menjadi penyebab longsor dan banjir bandang, seperti pada kasus Bohorok. Kerusakan hutan ini dapat dialamatkan kepada kerakusan manusia yang sering tidak memiliki perhitungan dan kepedulian lingkungan dalam mengeksporasi sektor kehutanan.

Ketiga, mulai melemahnya daya dukung sungai dan danau dalam menampung aliran air hujan. Lagi-lagi hal ini adalah konsekuensi perbuatan manusia yang tidak peduli lingkungan. Kita bisa melihat banyak sungai dan danau di sekitar kita yang kotor penuh sampah. Sampah tersebut telah mempersempit dan memperdangkal sungai dan danau sehingga kemampuan menampung air semakin mengecil.

Penyebab pertama banjir sebagian besar atau semuanya terjadi karena campur tangan yang Maha Kuasa. Penyebab yang kedua dan ketiga, sepenuhnya memerlukan tindakan manusia untuk mencegahnya.

Jakarta dapat menjadi contoh tentang perbuatan ceroboh manusia yang dapat mendatangkan bencana banjir. Penyebab kedua dan ketiga sering menjadi alasan terjadinya banjir di Jakarta tiap tahunnya. Jakarta yang seharusnya menjadi kota perwakilan Indonesia di mata dunia malah sering menjadi pusat berita banjir di kala musim hujan.

Pada musim itu, kita sering menyaksikan dan membaca di media massa bahwa banyak daerah di Jakarta terendam air dan membuat Jakarta lumpuh. Banyak pihak menyatakan bahwa banjir yang terjadi karena adanya banjir kiriman dari daerah Bogor yang telah mengalami kerusakan lingkungan di bukit-bukitnya.

--------------------


(7) KEHIDUPAN BERNEGARA TAHUN 2003
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 31 Desember2003


Tahun 2003 sudah akan berakhir dan tahun berikutnya, 2004 sudah menunggu untuk dilalui. Seperti biasanya, akhir tahun merupakan saat yang sering digunakan untuk melihat dan merefleksikan segala sesuatu yang telah diperbuat manusia pada tahun yang baru saja lewat. Manusia memang perlu merefleksikan semua perbuatannya di masa silam untuk melihat perbuatan positif yang harus terus dilakukan dan dikembangkan serta perbuatan negatif yang harus dihindari dan ditinggalkan.

Suatu sisi kehidupan manusia Indonesia saat ini yang paling perlu direnungkan dan direfleksikan adalah perilaku kita dalam kehidupan bernegara, yaitu bagaimana manusia Indonesia bertindak-tanduk dalam statusnya sebagai suatu bangsa yang hidup di suatu negara yang sama yaitu Indonesia. Kita perlu melihat segala tindakan dan perilaku kita selama satu tahun lalu dalam berinteraksi sebagai saudara sebangsa, sebahasa nasional dan senegara.

Banyak peristiwa sepanjang tahun 2003 yang dapat digunakan sebagai bahan renungan kita. Peristiwa itu dapat merupakan kejadian yang hanya melibatkan beberapa gelintir orang saja sampai yang melibatkan sekelompok dan seluruh bangsa secara bersama-sama. Banyak peristiwa dan masalah dalam hidup bernegara itu terjadi di setiap segi dan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat.

Perbedaan pendapat yang sering berujung dengan demonstrasi terjadi hampir di tiap daerah. Kita bisa melihat beberapa kelompok tertentu melakukan aksi menentang kelompok lain, misalnya pemerintah. Serang dan saling hujat sering terjadi di antara kita, dan bahkan saling hujat itu tidak dilandasi oleh perbedaan pendapat yang obyektif tetapi lebih dipengaruhi oleh rasa saling benci yang bersifat sangat subyektif. Dalam aksi itu, pertentangan yang hanya bermula dari perbedaan pendapat dapat menjadi kekerasan dan bentrokan.

Selama 2003, kita banyak membaca dan melihat lewat berbagai media massa terjadinya bentrokan dan kerusuhan yang ditimbulkan oleh sentimen-sentimen permusuhan antar anak bangsa. Bentrokan terjadi di antara orang-orang yang berbeda pendapat suku, agama dan sentimen kekelompokan. Suhu masih kadang-kadang meninggi di daerah konflik akibat masih ada beberapa pihak yang tidak pernah menerima usaha perdamaian yang telah dilakukan sebelumnya.

Beberapa bentrokan justru memperlihatkan tidak kompaknya aparat keamanan dengan pertahanan. Kebanyakan bentrokan antar aparat itu dimulai oleh permasalahan sepele di antara beberapa oknum, tetapi kemudian menjadi besar karena masing-masing kekuatan ingin mewujudkan semangat kesetiakawanan yang sempit. Esprite de corps yang tidak tepat di antara tentara dan polisi sering menjadikan mereka saling ingin beradu kekuatan di depan masyarakat yang seharusnya mereka lindungi.

Pemilihan kepala daerah, dari dukuh sampai bupati, kadang menimbulkan gesekan antar pendukung calon kepala. Masing-masing pihak selalu ingin memaksakan aspirasi mereka, sehingga mereka lupa terhadap proses demokrasi. Pihak yang menang sering kali terlalu bersikap sombong dan pihak yang kalah tidak jarang mengungkapkan kemarahannya dengan membuat kekacauan.

Pemilihan kepala daerah sering dibumbui dengan isu money politics yang digunakan oleh pihak yang kalah untuk meminta keadilan dan pemilihan ulang, tanpa dapat membuktikan bahwa isu itu benar atau tidak.

Di tataran perpolitikan nasional, kita bisa melihat ulah para elit politik saling serang dalam perbedaan pendapat, bahkan beberapa diantaranya dapat dikategorikan sebagai character assassination untuk menjelekkan figur seorang tokoh tertentu. Perbedaan kepentingan demi keuntungan kelompok selalu mewarnai kehidupan elit politik. Pertentangan kepentingan antar parpol selalu mewarnai setiap dinamika politik nasional.

Perbedaan pendapat di kalangan politisi, sering tidak didasarkan perbedaan pendapat rasional dan obyektif. Ramainya dunia politik di tingkat atas itu kadang memprovokasi tindakan yang hampir serupa di tingkat akar rumput yang sering terwujud dalam bentrok antar pendukung parpol. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) masih banyak terjadi di tahun 2003.

Ketiga-tiganya bahkan ditengarai makin meluas dan melibatkan lebih banyak kelompok memperebutkan keuntungan bagi masing-masing pihak. Masih banyak orang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan KKN yang merugikan orang lain bahkan seluruh rakyat. Walaupun sejak masa reformasi awal sampai tahun 2003 banyak pihak menyatakan perang terhadap KKN, tetapi hal itu tidak juga menyurutkan ulah para pemburu keuntungan haram untuk melakukannya.

Dari uraian-uraian sebelumnya, kita bisa melihat bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai banyak masalah dalam kehidupan bernegaranya. Setiap manusia Indonesia masih menonjolkan kepentingan dirinya sendiri serta jarang memperhatikan dan mendahulukan kepentingan orang lain. Tiap insan masih tidak dapat menerima keberadaan orang lain yang berbeda dengan dirinya dengan segala atribut yang melekat di badannya.

Perbedaan pendapat sering menjadi sumber masalah, karena tidak ada semangat terbuka dan lapang dada untuk menerima pendapat orang lain. Lebih parah lagi, banyak orang menganggap orang yang tidak sependapat dirinya adalah lawan. Sebagian anggota bangsa Indonesia lebih mementingkan kelompoknya sendiri dan berusaha meniadakan keberadaan kelompok lainnya.

Uraian peristiwa-peristiwa tersebut tidak menyebutkan berbagai kejadian secara detail, misalkan pihak mana saja yang terlibat, subjek rinci yang menjadi masalah, tempat dan tanggal kejadian. Keterangan rinci itu tidak begitu relevan karena peristiwa-peristiwa itu hampir selalu terjadi selama tahun 2003 lalu dan tahun-tahun sebelumnya serta bahkan banyak masalah dengan tema yang sama terjadi berulang-ulang.

Terjadinya peristiwa yang sama secara berulang-ulang menunjukkan bahwa bangsa ini tidak pernah belajar dari kesalahan yang lalu. Kita sebenarnya telah sering diberi pelajaran oleh kejadian-kejadian yang sudah pernah kita hadapi di masa lalu, tetapi kita tidak pernah belajar dan mencoba untuk memperbaikinya.

Kita lupa akan pepatah "pengalaman adalah guru yang terbaik". Sehingga refleksi terhadap pengalaman kita dalam kehidupan bernegara pada tahun 2003 akan menjadi sia-sia jika kita tetap mempertahankan budaya tidak mau belajar dan bangsa ini masih akan menghadapi persoalan-persoalan yang sama di tahun-tahun berikutnya.

Kita tidak bisa membayangkan entah seberapa besar energi dan seberapa lama waktu kita terbuang percuma untuk melayani sifat kita yang tidak pernah mau secara jujur, rendah hati dan mencintai sesama saudara sebangsa dalam melakukan setiap tindak-tanduk kita dalam kehidupan bernegara.



--------------------

(6) IBU-IBU, KEMBALILAH KE ASI
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 24 Desember 2003


Tanggal 22 Desember lalu seperti tahun-tahun sebelumnya, kita merayakan Hari Ibu dan saat itu selalu menjadi suatu hari yang digunakan untuk mengingatkan kembali akan penghormatan kepada para ibu. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan anak-anak Indonesia patut mendapatkan penghargaan dan penghormatan atas pengorbanan mereka.

Tanggal tersebut seharusnya dapat juga dimanfaatkan untuk mengingatkan para ibu untuk memberikan sumbangan terbesarnya kepada anak-anak mereka pada skala kecil di tingkat keluarga dan kepada seluruh generasi muda pada skala lebih luas.

Pengorbanan para ibu untuk melahirkan anak mereka tidak perlu dipertanyakan. Mereka sudah melalui masa-masa sulit selama mengandung dan pada saat melahirkan. Rasa capai, emosi yang tidak stabil dan rasa sakit sering melanda mereka pada masa-masa itu. Setelah melahirkan, ibu-ibu juga harus merawat dan memulai membesarkan bayi mereka. Pada saat itulah orang sering bisa melihat ternyata banyak ibu pada masa kini sudah melupakan tugas dan tanggung jawab mulianya, yaitu menyusui untuk memberikan air susu ibu (ASI).

Banyak ibu mengurangi jatah waktu menyusui bayi mereka dengan alasan utama bahwa kegiatan itu ternyata telah banyak menghilangkan kesempatan lain yang dipandang lebih berharga di mata orang masa kini. Ibu-ibu lebih suka menggunakan waktunya untuk bekerja, dengan tujuan tentu saja untuk mendapatkan uang demi membiayai keperluan sehari-hari. Ibu-ibu yang sibuk dengan berbagai kegiatan biasanya telah mengurangi waktu mereka untuk menyusui anak mereka demi melakukan kegiatan-kegiatannya.

Banyak kejadian lain menunjukkan alasan ibu tidak menyusui lebih lama karena takut tampilan dan keindahan payudara mereka tidak sebagus seperti sebelumnya. Demi memenuhi semua kepentingan tersebut, ibu-ibu merelakan bayi-bayi mereka tidak mendapatkan ASI dan membiarkannya minum susu dari botol. Mungkin bayi-bayi masa kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama botol susu dibandingkan kehangatan badan ibu untuk mendapatkan makanan.

Pemberian susu botol tersebut pun sering kali tidak dilakukan sendiri oleh sang ibu, tetapi diserahkan kepada pembantu rumah tangga atau baby sitter sementara sang ibu melakukan berbagai kegiatannya di dalam atau di luar rumah.

ASI sebenarnya merupakan makanan yang sangat bermanfaat dalam perkembangan bayi dan bahkan bagi sang ibu sendiri. Beberapa tulisan telah dibuat oleh almarhum Dr. Masri Singarimbun, seorang sosiolog ternama di negeri ini yang banyak menyoroti masalah kesehatan ibu dan anak, untuk mengingatkan pentingnya ASI bagi anak dan ibunya sendiri.

Manfaat-manfaat pemberian ASI adalah pertama, ASI memiliki kekayaan gizi yang diperlukan oleh bayi. Kedua, ASI dalam beberapa kasus dapat memberikan perlindungan bagi bayi terhadap penyakit. Ketiga, pemberian ASI dapat mengurangi resiko kanker payudara bagi sang ibu. Keempat, kegiatan menyusui merupakan suatu cara menyalurkan kasih seorang ibu kepada anaknya dan memberikan bekal mental dan psikologis tentang arti cinta keluarga.

Kita bisa membayangkan jika para ibu di negeri ini semakin melalaikan kegiatannya menyusui yang sangat penting dalam pembinaan kesehatan, mental dan psikologis generasi mendatang. Mungkinkah keadaan generasi muda saat ini yang diperlihatkan lewat keberingasan dan mudahnya mereka dalam jurang kejahatan disebabkan oleh kekurangan perhatian orang tua terutama saat mereka seharusnya mendapatkan kasih sayang ibu lewat kegiatan menyusui ?

Salah satu hal yang mendorong para ibu untuk mengurangi aktivitas menyusui adalah gencarnya kampanye penggunaan susu pabrikan. Kita bisa melihat iklan susu kaleng di berbagai media, terutama televisi. Bahkan produk-produk susu tersebut menawarkan berbagai kelebihan yang dimiliki mereka dengan mencantumkan bermacam nama zat kimia yang dikandung dalam susu tersebut.

Mereka selalu menggembar-gemborkan kandungan gizi dan zat-zat tambahan yang dapat menambah ketahanan tubuh, kecerdasan dan meningkatkan pertumbuhan badan anak. Mungkin semua itu bisa sedikit menggantikan kandungan gizi ASI, tetapi mereka tidak bisa memberikan kasih sayang ibu yang hanya dapat diberikan ketika ibu menggendong bayi dan menyusuinya.

Saya teringat suatu acara dokumenter di televisi beberapa tahun lalu. Tayangan itu memperlihatkan bahwa suatu generasi di suatu desa di Afrika hilang karena anak-anak kekurangan gizi. Bencana itu dimulai ketika suatu perusahaan susu kaleng melakukan promosi yang gencar di desa tersebut.

Karena terbujuk iklan, ibu-ibu lebih memilih membeli susu kaleng dibandingkan menyusui. Mereka merasa bahwa keberadaan susu dapat menggantikan peran ASI, sehingga mereka tidak perlu repot-repot menyusui dan dapat lebih banyak bekerja membantu suami di ladang. Tetapi mereka ternyata memberikan susu tidak sesuai dengan takaran yang disarankan sesuai dengan petunjuk di kaleng susu. Mereka hanya memasukkan satu atau dua sendok makan susu ke dalam botol, padahal takaran sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah empat sampai lima sendok.

Hal itu dilakukan karena keterbatasan mereka dalam membeli susu karena harganya mahal dan ternyata para ibu tidak bisa membaca dengan baik petunjuk pemakaian karena mereka pada umumnya tidak berpendidikan. Sehingga mereka pikir bahwa air sudah berubah menjadi putih karena diberi sedikit bubuk susu berarti air itu sudah menjadi air susu yang sehat dan bergizi padahal sebenarnya kandungan gizinya jauh dari yang dibutuhkan.

Kesalahan pemberian susu kaleng tersebut diperparah oleh perilaku produsen susu yang hanya giat mengiklankan keunggulan produknya tanpa memberikan informasi yang gencar tentang petunjuk pemakaiannya. Pemberian susu yang tidak tepat oleh para ibu itu dilakukan selama bertahun-tahun, sehingga kekurangan gizi melanda hampir semua anak di desa tersebut.

Akankah kita akan mencontoh bencana tragis yang dialami desa tersebut? Akankah para ibu tetap melalaikan kewajiban mereka untuk menyusui anak-anak mereka? Akankah para bapak tidak akan mendukung istri-istri mereka untuk memberikan ASI kepada anak-anak mereka ?

Jika para ibu tetap atau bahkan semakin melalaikan tugas mulia untuk memberikan ASI dan para bapak tidak membantu mereka, maka kita tidak cuma akan kehilangan satu generasi dan mungkin bangsa ini akan musnah di saat mendatang.


--------------------


(5) DI MANA KEWIBAWAAN KOMANDAN ?
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 10 Desember 2003


Mel Gibson bermain cemerlang dalam sebuah film epik perang yang berjudul We were Soldiers, yang mengisahkan sebuah pertempuran penting dalam perang Vietnam. Film tersebut merupakan adaptasi dari sebuah buku berjudul We were Soldiers Once…and Young yang ditulis oleh jendral purnawirawan Hal Moore dan wartawan Joe Galloway.

Film tersebut mengisahkan perjuangan, kepahlawanan dan kepedihan prajurit-prajurit Amerika dari Divisi Kavaleri ke-1 dalam pertempuran melawan tentara Vietnam Utara di Lembah Ia Drang pada bulan November 1965. Kolonel Harold (Hal) Moore adalah komandan batalion tentara Amerika di perang tersebut, sedangkan Joe Galloway adalah wartawan perang yang ditugaskan meliput pertempuran itu secara langsung.

Pertempuran tersebut menjadi suatu pertempuran yang mungkin tidak akan dilupakan olah tentara-tentara yang terlibat para pertempuran itu, terutama bagi tentara Amerika. Prajurit Amerika yang berjumlah sekitar 400 orang harus menghadapi serbuan intensif selama 3 hari dari suatu resimen reguler tentara Vietnam Utara yang berjumlah tidak kurang dari 2000 orang. Hal Moore ditantang untuk memenangkan pertempuran itu. Itu merupakan suatu mission impossible bagi dirinya. Ia harus mengatur pertahanan dan memimpin pertempuran langsung di lapangan dengan taktik dan strategi terbaiknya.

Anak buahnya pun melakukan pertempuran terbaik yang mereka bisa lakukan demi negaranya, walaupun mereka tidak tahu tujuan perang mereka di Vietnam. Mereka tidak "mbalelo", mereka tidak melawan atasan mereka. Mereka melaksanakan setiap perintah yang diberikan oleh komandan mereka, karena mereka merasa perintah itu mencerminkan perintah negara. Mereka juga yakin bahwa perintah tersebut juga akan membawa keselamatan dan kemenangan bagi mereka.

Perintah komandan dianggap sebagai petunjuk terbaik bagi anak buah. Kepatuhan para prajurit kepada Kolonel Moore adalah cerminan kewibawaannya sebagai komandan yang telah berhasil mengayomi anak buahnya.

Peristiwa di kota Palopo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, tanggal 4 Desember 2003 lalu memberikan contoh cerita yang berbeda. Tentara dan polisi yang seharusnya bahu-membahu menjadi penjaga keamanan dan pertahanan negara dan bangsa Indonesia malahan terlibat dalam bentrok atau "perang" antar mereka sendiri, yaitu antara polisi-polisi dari Polres Luwu dengan tentara dari Kompi C Yonif 721 Luwu.

Bentrokan tersebut menyebabkan beberapa korban mengalami luka dan beruntung tidak ada koban jiwa. Daerah setempat sempat mengalami keadaan yang mencekam dan melumpuhkan kegiatan masyarakat, karena masyarakat diliputi rasa ketakutan.

Kejadian tersebut dipicu oleh kejadian kecil sebelumnya yang hanya melibatkan beberapa orang tentara dan polisi. Peristiwa selanjutnya merupakan gambaran ekspresi esprite de corps yang salah. Mereka tidak melihat persoalan dengan jernih, mereka hanya menonjolkan aspek kesetiakawanan yang buta dan emosi yang tidak terkendali. Sehingga tindakan mereka tidak didasarkan pada tugas mereka yang sebenarnya untuk membela negara dan bangsa, tetapi didasarkan semangat dan emosi balas dendam semata.

Kejadian yang memalukan itu sebetulnya tidak akan terjadi jika adanya kewibawaan dari para perwira atasan dan komandan, sebab hanya komandanlah yang dapat menggerakkan tentara untuk melawan musuh. Tentara-tentara tersebut tidak akan bertindak sendiri jika mereka menghormati perwira atasannya.

Kewibawaan perwira atasan hanya diraih dengan perilaku atasan yang berpedoman pada ketentuan-ketentuan dinas serta perhatian atasan yang besar pada kehidupan dan perilaku anak buah. Atasan seharusnya memberikan contoh yang baik kepada anak buahnya tentang bagaimana menjadi tentara atau polisi yang baik dan profesional. Jika atasan atau komandan dapat mengayomi anak buahnya dengan baik, maka semangat kesetiakawanan yang keliru tidak akan dimiliki oleh anak buah dan tindakan sembarangan dengan berbagai alasan tidak akan dilakukan oleh mereka.

Kejadian di Binjai bukan merupakan kejadian bentrokan antara tentara-polisi yang pertama kalinya, sebelumnya telah terjadi beberapa kasus serupa di beberapa daerah di nusantara ini. Salah satu peristiwa yang cukup besar adalah bentrokan antara polisi dari Brimobda Binjai dengan tentara dari satuan Linud 100 di Binjai, Sumatera Utara beberapa tahun lalu. Peristiwa itu menimbulkan beberapa korban jiwa.

Banyak peristiwa lainnya mungkin terjadi dalam skala kecil dan tidak diketahui oleh masyarakat luas dan media massa. Jika bentrokan antara polisi dan tentara terjadi terus, entah berapa lagi korban yang akan jatuh, baik tentara, polisi atau masyarakat sipil. Sedangkan yang menjadi korban utama adalah rasa ketentraman dan keamanan warga sendiri yang sebetulnya harus dijaga oleh TNI dan Polri.

-----------------

(4) JALANMU, ATAPKU
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 4 Desember 2003


Saya menghabiskan masa libur lebaran di Jakarta, karena Jakarta akan menjadi kota yang relatif sepi setiap musim libur lebaran. Saya datang ke Jakarta menggunakan pesawat dan mendarat di bandara Sukarno-Hatta. Saya harus melalui jalan tol untuk keluar kawasan bandara menuju kota.

Di beberapa ruas di jalan tol, saya melihat beberapa baris papan tripleks, yang dicampur dengan gedhek dan kertas karton di bawah jalan tol. Jalan tol tersebut terletak beberapa meter di atas permukaan tanah. Saya baru sadar bahwa itu adalah gubug-gubug kecil yang menjadikan jalan tol sebagai atap dan penghuni gubug hanya tinggal menambah tripleks untuk membentuk "tembok" rumah. Pembatasan antar gubug sangat jelas, sehingga saya bisa mengetahui bahwa barisan tersebut merupakan "perumahan" yang terdiri dari belasan sampai puluhan gubug yang sangat kecil.

Para penghuni gubug-gubug tersebut adalah kaum menengah ke bawah, yang mungkin kebanyakan dari mereka dapat drton dan gedhek. Para penghuni gubuk-gubuk itu dengan rela menerima kehidupan yang jauh dari layak. Mereka harus hidup dengan atap yang tiap jam, tiap menit dan tiap detik dilindas oleh mobil-mobil dari segala jenis, dari kecil ke besar, dari yang kuno ke yang mewah.

Mereka tidak mempedulikan bahwa atap mereka telah menanggung beban berat banyak mobil jika terjadi kemacetan di jalan tol. Lingkungan di sekeliling gubug mereka pun tidak kalah parahnya, sebagai contoh banyak lubang-lubang di tanah di sekitar rumah mereka tergenang air, sampah menumpuk di dekat rumah dan banyak rumput liar tumbuh tidak terawat. Semua itu membuat para penghuninya sangat rentan dengan masalah kesehatan.

Saya kemudian teringat dengan berita-berita penggusuran yang dilakukan pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Pemda DKI telah menggusur banyak rumah yang dibangun di atas tanah milik pemerintah atau pribadi secara ilegal. Sebagian pemilik rumah-rumah yang digusur adalah orang-orang yang telah membeli tanah ilegal dari oknum-oknum tertentu.

Sebagian lainnya adalah orang-orang yang tidak mampu membeli tanah dan hanya dapat membangun rumah seadanya di atas tanah yang bukan milik mereka. Mereka adalah kaum yang senasib dengan saudara-saudara mereka yang tinggal di bawah jalan tol.

Orang-orang yang tinggal di bawah jalan tol hanya menunggu waktu untuk mendapat gilirannya digusur. Mereka dapat digusur dengan alasan mereka telah menempati tanah negara atau untuk mengurangi pemandangan yang tidak indah di ibukota. Mereka mungkin sudah merasa pasrah untuk digusur karena mereka menyadari bahwa keberadaan gubuk mereka telah melanggar peraturan pemerintah setempat. Mereka terpaksa melanggar peraturan karena tuntuan keadaan mereka yang serba kekurangan. Mereka hanya mencoba untuk tetap bertahan hidup di Jakarta.

Orang-orang yang tidak beruntung itu rela hidup di bawah gilasan roda-roda mobil karena mereka adalah kaum yang tergilas oleh "roda-roda" pembangunan. Proses pembangunan selama ini ternyata tidak memihak kepada mereka. Mereka tidak dapat berperan dalam pembangunan secara layak dan mereka malahan menjadi korban pembangunan yang hasilnya hanya dinikmati sebagian besar bangsa Indonesia. Kerelaan mereka untuk tinggal di bawah jalan adalah cermin pembangunan yang telah gagal untuk memberikan kesejahteraan kepada kaum miskin.

Mereka adalah orang-orang yang terpaksa datang ke Jakarta untuk mencari penghidupan karena daerah asal mereka tidak mampu memberikannya. Kemudian merekapun di Jakarta juga tidak mendapatkan penghidupan yang layak karena mereka tidak memiliki sumber daya-sumber daya (modal, sumber daya manusia dan lainnya) yang mencukupi untuk bekerja.

Hal itu seharusnya menjadi tantangan bagi pemerintah-pemerintah daerah untuk mulai mengkaji ulang proses pembangunan yang telah berlangsung di daerahnya. Pemda harus melaksanakan suatu pembangunan yang dapat memberikan hasilnya secara lebih merata kepada masyarakatnya. Otonomi daerah (otda) dapat menjadi harapan untuk melaksanakan pemerataan pembangunan yang lebih merata.

Pemerintah daerah dapat menggali sepenuhnya sumber-sumber daya yang ada di daerahnya untuk mensejahterakan masyarakatnya. Jika otda dibarengi dengan suatu proses penyaluran aspirasi yang demokratis dan memadai maka suara masyarakat banyak dapat menjadi penentu kebijakan pembangunan daerah, sehingga pembangunan di daerah juga tidak hanya dinikmati oleh segelintir masyarakat. Akhirnya masyarakat di daerah dapat merasakan peningkatan kesejahteraan di daerahnya sendiri.

Jika pembangunan di masing-masing daerah dapat memberikan kesejahteraan yang lebih merata kepada semua warga, maka niscaya tidak akan lagi orang-orang yang harus datang ke Jakarta untuk mencari penghidupan dan kesejahteraan. Sehingga tidak akan ada lagi orang-orang yang harus tidur beratapkan jalan tol di Jakarta.


-----------------

(3) DPR DAN PEMBUNUHAN KARAKTER
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 22 November 2003


Beberapa waktu lalu dunia perpolitikan Indonesia sempat diramaikan dengan pro-kontra pemanggilan orang-orang yang ada kaitan dengan skandal proyek Kemayoran, salah satu diantaranya adalah putra sulung presiden. Proyek Kemayoran adalah suatu proyek pembangunan kawasan bisnis yang bernama China Business Center di bekas kawasan bandar udara Kemayoran Jakarta. Berbagai pihak menduga adanya skandal kolusi-nepotisme dalam pembangunan tersebut. Mereka menduga bahwa keberhasilan perusahaan yang memenangkan tender diakibatkan karena salah satu pemilik perusahaan mempunyai hubungan dengan presiden. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menunjuk suatu panitia kerja (panja) untuk menyelidiki skandal tersebut.

Pemanggilan putra presiden berkaitan dengan masalah tersebut telah menimbulkan silang pendapat. Pihak yang setuju pada tindakan tersebut menyatakan bahwa pemanggilan itu adalah mekanisme yang biasa dalam proses penyelidikan dalam panja. Mereka menolak anggapan bahwa pemanggilan itu penuh dengan nuansa politik. Mereka berpendapat bahwa pemanggilan itu tidak ada kaitannya dengan agenda memojokkan presiden.

Pihak yang tidak menyetujui pemanggilan itu adalah orang-orang yang berasal dari partai pendukung presiden. Mereka menyatakan bahwa panja dimanfaatkan oleh lawan politik presiden untuk membunuh karakter beliau. Argumen ini berkaitan dengan semakin dekatnya Pemilu 2004. Jika mereka berhasil membunuh karakter presiden, maka diharapkan popularitasnya akan menurun sehingga peluang untuk memenangkan jabatan presiden dalam pemilu mendatang akan menurun.

Hal yang sama mungkin akan terjadi pada skandal pembobolan Bank BNI lewat penipuan Letter of Credit (L/C). Skandal ini baru saja muncul di permukaan dan sebuah isu dan sebuah pengakuan seorang tersangka kasus tersebut sempat mengkaitkan skandal tersebut dengan seorang bakal calon presiden dari suatu partai politik (parpol) tertentu. Jika dugaan tersebut sudah diyakini benar dan mulai memuncak, bukan tidak mungkin DPR juga akan membentuk panja atau panitia lain yang akan digunakan untuk menyelidiki kasus tersebut dan orang yang tersangkut di dalamnya termasuk sang bakal calon presiden itu. Kasus BNI akan menjadi jalan untuk menjatuhkan sang bakal calon presiden.

Sementara itu bangsa ini baru dihadapkan pada dua kasus besar. Pertama, penderitaan tenaga kerja Indonesia (TKI). Masalah ini berkaitan dengan nasib ribuan pekerja Indonesia yang bekerja di negara lain. Banyak di antara mereka mengalami penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi lainnya. Banyak pemerhati masalah sosial, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan media massa membahas masalah tersebut, tetapi DPR tampaknya tidak menunjukkan sikap yang cukup responsif untuk menyelidiki kasus tersebut.

Masalah yang kedua adalah bencana alam di Bukit Lawang, Sumatra Utara, yang dikenal dengan Bencana Bohorok. Bencana itu telah memakan lebih dari seratus korban manusia dan kerugian materiil yang tidak sedikit. Banyak pihak, terutama LSM lingkungan hidup, menduga bahwa bencana itu berkaitan dengan kerusakan lingkungan di hutan lindung Leuser dan masalah penebangan kayu liar (Illegal logging). Isu ini juga ditanggapi dingin oleh DPR.

Kedua kasus tersebut mungkin tidak menarik bagi orang-orang yang duduk di DPR, karena keduanya tidak mempunyai kaitan dengan orang-orang tertentu yang dapat dibunuh karakternya demi kepentingan politik pihak-pihak yang duduk di dewan. Mereka hanya akan bersemangat menyelidiki kedua kasus tersebut jika saja keduanya berkaitan dengan tokoh-tokoh dari pihak lawan politik mereka.

Penyelidikan DPR pada kasus-kasus tertentu yang berkaitan dengan tokoh-tokoh nasional memang selalu menimbulkan masalah pro dan kontra. Masalah tersebut semakin membuktikan bahwa selama ini DPR bukanlah suatu lembaga yang berusaha untuk melaksanakan tugasnya yang diamanatkan oleh undang-undang dasar, tetapi menjadi ajang pergulatan antar partai politik untuk saling menjatuhkan.

DPR akan menjadi lembaga pembunuh karakter. DPR hanya menunjukkan keantusiasannya ketika menghadapi skandal yang berhubungan dengan orang-orang penting atau elit politik yang dapat dijatuhkan sehingga kinerja DPR akan jauh dari yang diharapkan. Lembaga tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya terutama dalam mengawasi eksekutif secara obyektif, karena segala tindakannya dilandasi oleh rasa saling ingin menjatuhkan.

Perilaku DPR tersebut juga akan menimbulkan kegelisahaan di tingkat akar rumput, terutama masyarakat yang mendukung orang-orang yang berkaitan dengan masalah yang diselidiki oleh DPR. Hal itu akan berbahaya karena masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran berpolitik masyarakat pada umumnya. Masyarakat Indonesia masih menunjukkan kefanatikan dan kecintaan yang buta terhadap tokoh-tokoh politik idolanya. Jika tokoh pujaan mereka terancam oleh kelompok lain, maka akan timbul perasaan tidak senang dengan kelompok yang mengancam tersebut. Rasa kebencian tersebut akan menjadi pendorong gesekan maupun bentrokan di kalangan bawah.

Bentrokan antar parpol telah banyak mewarnai situasi perpolitikan sampai saat ini. Bentrokan tersebut telah menimbulkan korban manusia dan benda serta mengusik ketenraman masyarakat. Semakin tinggi intensitas pertikaian di tingkat atas, maka semakin tinggi pula bahaya perpecahan dan benturan di tingkat bawah.

Kenyataan ini seharusnya menjadi pertimbangan para anggota DPR dalam menjalankan kegiatan politiknya. Paling tidak DPR harus mengedepankan perjuangannya demi kepentingan seluruh bangsa, bukannya demi sebagian kelompok untuk menjatuhkan lawan politiknya semata.

-------------------

(2) JADI PAHLAWAN BAGI DIRI SENDIRI
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 10 November 2003


Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Tanggal itu dipilih sebagai hari yang keramat untuk mengenang para pahlawan bangsa yang telah berjuang di Surabaya 58 tahun yang lalu. Kala itu Belanda berusaha masuk kembali ke Indonesian dengan membonceng tentara Sekutu yang mendarat di Surabaya untuk melucuti tentara Jepang. Bangsa Indonesia mengetahui maksud tersebut dan berusaha untuk melawan Belanda dan Sekutu. Bangsa Indonesia segera angkat senjata untuk melawan musuh karena Bangsa Indonesia tidak mau kemerdekaan yang sudah ada di tangan mereka direbut kembali oleh bangsa yang pernah menjajahnya.

Para pejuang pada waktu itu bersama-sama dan bahu-membahu untuk bertempur mengusir musuh. Mereka berjuang tanpa memperhitungkan kepentingan sendiri. Mereka berjuang bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi mereka melawan penjajah agar bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang merdeka. Mereka hanya ingin kebebasan dan kemerdekaan sebagai sebuah bangsa untuk menentukan jalan hidupnya.

Bangsa Indonesia saat ini seharusnya mempunyai jiwa kepahlawanan seperti yang dimiliki oleh para pejuang pada jaman kemerdekaan. Tetapi kenyataan telah banyak menunjukkan bahwa jiwa kepahlawanan seperti jaman kemerdekaan itu sudah tidak lagi melekat di setiap dada manusia Indonesia.

Bangsa Indonesia sudah melupakan semangat untuk bersama-sama mewujudkan keinginan yang luhur seperti yang diperjuangkan oleh para pahlawan pendahulu bangsa. Bangsa ini bahkan telah saling berusaha untuk memenangkan kepentingan sendiri dan memaksakan keinginannya kepada sesama anak bangsa. Banyak contoh dapat ditemukan yang dapat menunjukkan hal itu, pertama segelintir orang selalu berusaha memperjuangkan kepentingannya dan kelompoknya baik di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya dengan menindas orang atau kelompok lain.

Kedua, beberapa orang selalu merasa dirinya adalah satu-satunya pemimpin bangsa yang dapat memimpin bangsa ini. Orang-orang tersebut selalu berusaha untuk mewujudkan ambisinya dengan cara menguasai, menindas dan meminggirkan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang-orang seperti itu ada di banyak tingkatan sosial dan kelompok, misalnya dari pemerintahan desa sampai negara, sektor swasta, partai politik dan bahkan kelompok keagamaan.

Orang-orang tersebut menginginkan jabatan yang cukup bergengsi (bagi mereka) dengan dalih mereka akan menjadi "pahlawan" bagi kelompoknya dan bangsa Indonesia. Orang-orang yang merasa sok pahlawan tersebut akan menimbulkan situasi yang keruh di kehidupan bermasyarakat. Kekeruhan situasi tersebut terjadi karena perebutan kekuasaan dan kedudukan, di mana sering terjadi perebutan tersebut dilakukan secara tidak sehat dan dilakukan dengan berbagai cara termasuk cara-cara yang tidak bermoral dan tidak etis.

Keinginan itu justru yang bertentangan dengan semangat para pahlawan jaman dulu. Para pahlawan kemerdekaan tidak menginginkan atau bernafsu menjadi pemimpin bagi bangsanya. Mereka jauh dari sikap arogan, sombong serta merasa paling benar dan menang sendiri. Mereka tidak menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dan berguna bagi bangsa Indonesia. Para pahlawan tidak pernah menguasai dan menindas sesama bangsa.

Semoga semangat Hari Pahlawan dapat menyadarkan mereka yang masih merasa paling "pahlawan" untuk mengubah orientasi semangatnya untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri lebih dahulu. Menjadi pahlawan bagi diri sendiri bukanlah usaha untuk meninggikan diri dan menganggap dirinya sebagai sesosok pahlawan yang paling berguna bagi orang lain.

Mereka harus berjuang untuk memerdekaan dan membebaskan dirinya dari arogansi, kesombongan dan rasa paling benar sendiri. Jika mereka sudah dapat mengatasi sifat-sifat tersebut, maka mereka dapat menyamakan langkah dengan sesama bangsa Indonesia lainnya dengan tanpa menguasai atau menindas sesamanya untuk memperjuangkan cita-cita bersama bangsa yang mereka cintai.

-------------------


(1) KEKUASAAN = TANGGUNG JAWAB
Dimuat di Bebas Bicara, Harian Bernas (Yogyakarta), 27 Oktober 2003


Pernahkah anda melihat film Spiderman? Film ini bercerita tentang seorang remaja bernama Peter Parker yang menjelma menjadi manusia berkempuan lebih dan menjadi pahlawan bernama Spiderman. Ia mendapatkan kemampuan hebat setelah digigit oleh seekor laba-laba yang direkayasa secara genetis. Ia mempunyai kekuatan yang besar dan kemampuan lain yang dimiliki seekor laba-laba.

Walaupun ia telah menjadi orang yang sangat hebat, tetapi ia selalu ingat perkataan pamannya yang mengatakan bahwa "with great power comes great responsibility" yang berarti "kekuatan muncul disertai tanggung jawab". Spiderman benar-benar mengamalkan ucapan itu dalam tindakannya.

Ia berusaha untuk menggunakan kemampuan lebihnya tidak untuk menyombongkan diri atau untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan gadis idamannya yang sudah ia impikan sejak lama. Ia mempersembahkan kekuatannya bagi masyarakat dengan cara memerangi kejahatan. Mungkinkah semangat "with great power comes great responsibility" juga akan diamalkan oleh para calon pemimpin bangsa ini?

Masyarakat Indonesia sedang menantikan saatnya pemilihan presiden baru (walaupun mungkin masih dipegang orang-orang lama) pada Pemilihan Umum 2004. Orang yang akan menjadi presiden adalah orang yang akan mempunyai kekuasaan (kekuatan) untuk memimpin bangsa ini. Sesuai dengan semangat di atas, seorang yang memiliki kekuasaan juga disertai beban tanggung jawab.

Bangsa kita adalah bangsa yang masih mempunyai banyak persoalan dan tantangan, diantaranya adalah tingkat taraf hidup yang rendah, semakin tingginya tingkat kerawanan sosial dan berbagai bentuk kejahatan kejahatan serta pergolakan dan kerusuhan di berbagai daerah. Tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang pemimpin bangsa ini adalah pemimpin yang dapat membawa keadaan bangsa Indonesia untuk meninggalkan berbagai persoalan tersebut.

Hal itu berarti bahwa pemimpin bangsa ini harus bisa membimbing rakyatnya menuju keadaan dan kualitas hidup yang lebih bagus, baik secara materiil maupun moral, memberantas kemiskinan dan kebodohan, memerangi korupsi, menciptakan keadaan damai dan tenteram, memerangi ketidakadilan, menegakkan hukum dan peraturan yang berlaku serta menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Jadi, siapapun yang "berlomba" untuk memperebutkan kursi kepemimpinan tertingi bangsa harus siap menjalankan tanggung jawab-tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka tidak boleh hanya memimpikan kenikmatan jabatan tersebut dan keuntungan-keuntungan yang ditimbulkannya saja. Mereka harus berani mempersembahkan kekuasaan mereka kepada masyarakat Indonesia yang telah memberikan kesempatan bagi mereka untuk memimpin. Persembahan tersebut dapat diwujudkan dengan melaksanakan semua tanggung jawab yang ia dapatkan dengan sebaik-baiknya.

Semoga mereka yang sedang bersiap untuk bertarung pada Pemilu 2004 sudah memikirkan hal tersebut.


-----------------

(0) TERIMA KASIH PAK AZYUMARDI !
Dikirimkan ke Majalah Gatra, November 2000.


Saya sangat terkesan dengan tulisan Bapak Azyumardi Azra pada rubrik Kolom di majalah Gatra No. 52 Tahun VI 11 November 2000, yang berjudul "Palestina: Faktor Islam dan Kemanusiaan Universal".

Dalam tulisan tersebut, Bapak Azyumardi menyarankan bahwa dukungan umat muslim terhadap penderitaan bangsa Palestina tidak hanya didasarkan pada semangat persaudaraan sesama umat Islam, tetapi juga harus didasarkan pada solidaritas kemanusiaan universal. Pak Azyumardi juga mengajak kepada umat non-muslim untuk bergerak untuk kepedulian terhadap penderitaan bangsa Palestina, di mana kepedulian tersebut harus juga dilandasi kepedulian kemanusiaan universal.

Selama ini saya merasa bahwa kadang-kadang kita lebih merasa terpukul atau peduli kepada korban dari suatu kejahatan, bencana atau krisis yang mempunyai kesamaan keyakinan agama. Misalnya orang kristen akan lebih merasa terusik rasa kemanusiaannya jika mendengar bahwa korban suatu kecelakaan adalah orang kristen. Tetapi saya juga merasa bahwa kami, umat kristen, juga menaruh perhatian pada penderitaan sesama kami walaupun tidak seiman. Pada beberapa kesempatan dalam ibadat, kami menyampaikan doa keprihatinan kami atas terjadinya berbagai krisis yang melanda bangsa kami, baik kerusuhan di Maluku, Timor-timur dan Aceh.

Kami tidak pernah berdoa hanya untuk korban di Maluku yang beragama kristen, tetapi kami berdoa untuk seluruh masyarakat Maluku tanpa melihat keyakinan mereka. Kami juga merasa prihatin dan berdoa untuk masyarakat Aceh, yang hampir 100 persen adalah umat Islam, agar krisis yang dialami rakyat Aceh dapat terselesaikan sehingga penderitaan mereka akan berakhir.

Saya juga menyadari bahwa umat kristen tampaknya tidak segigih seperti saudara umat muslim dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dukungan yang lebih nyata dari umat kristen terhadap bangsa Palestina mungkin akan dapat sedikit membantu semangat perjuangan mereka untuk mengakhiri penderitaan yang selama ini mereka alami.

Sekali lagi dukungan itu jangan didasarkan karena bangsa Palestina memiliki proporsi umat kristen yang cukup besar, tetapi harus didasarkan pada semangat kepedulian kemanusiaan yang universal. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Azyumardi Azra, karena Beliau telah mengingatkan kami supaya tidak terjebak pada rasa kepedulian yang hanya didasarkan atas kesamaan keyakinan atau agama.

Dion Desembriarto
Yogyakarta